PERJUANGAN BANGSA INDONESIA MELAWAN PENJAJAHAN BELANDA

PERANG MELAWAN BELANDA

Perang di Saparua Ambon

Merupakan perlawanan rakyat Ambon di pimpin oleh Thomas matulesi (pattimura). Dalam pemberontakan tersebut seorang pahlawan wanita bernama Chriatina Martha Tihahu melakuka perlawanan dengan berani. Patimura dapat dikalahkan setelah bantuan pasukan Belanda datang dari Jakarta. Patimura dan tiga pengikutnya ditangkap dan dihukum gantung.

Perang Paderi di Sumatra Barat

            Kaum Paderi dan kaum Adat bersatu dan melakukan perlawanan terhadap Belanda yang menyebabkan Belanda Kewalahan. Belanda menerapkan system pertahanan Benteng Stelsel.Benteng Fort de Kock di Bukit tinggi dan benteng Fort van der Cappelen merupakan dua benteng pertahanannya. Dengan siasat tersebut Belanda menang tahun 1837 dan Tuanku Imam Bonjol ditangkap dan diasingkan ke Priangan, kemudian ke Ambon, dan terakhir ke Menado hingga wafat tahun 1864.

Perang Diponegoro 1825-1830

            Perang Diponegoro diakibatkan karena campur tangan Belanda dalam urusan politik kerajaan Yogyakarta. Belanda membangun jalan-jalan baru pada bulan Mei 1825. Pada tanggal 20 Juli 1825 Tegalrejo direbuit dan dibakar Belanda. Pada bulan Maret 1830 Diponegoro mengadakan perundingan dengan Belanda di Magelang, Jawa Tengah. Perundingan itu hanya tipu muslihat Belanda untuk menangkap Diponegoro kemudian diasingkan ke Menado kemudianb ke Makasar hingga wafat tahun 1855.

Perang Aceh

Semangat Jihad merupakan spirit perlawanan rakyat Aceh. Jenndral Kohler terbunuh saat bertempur di depan Masjid Baiturrahman Banda Aceh. Belanda Kewalahan kemudian mengutus Dr. Snuock Hurgroje alias Abdul Gafar seorang ahli bahasa,sejarah dan sosial islam. Dr. Snuock Hurgroje memberikan saran kepada Belanda untuk mengadu domba antara Uleebalang (bangsawan) dengan ulama. Taktik ini berhasil dan membuat Aceh semakin terdesak pada tahun 1898. Belanda mengumumkan Perang Aceh selesai pada tahu 1904 tapi perlawanan rakyat Aceh berlangsung hingga tahun 1930-an.

Perlawanan Sisingamangaraja di Sumatra Utara

Perlawanan terhadap Belanda di Sumatra Utara dilakukan oleh Sisingamangaraja XII dan berlangsung selama 24 tahun. Pasukan Sisingamangaraja dikalahkan setelah Kapten Christoffel mengepung benteng terakhir Sisingamangaraja di Pakpak. Kedua putra beliau Patuan Nagari dan Patuan Anggi ikut gugur sehingga seluruh Tapanuli dikuasai oleh Belanda.

Perang Banjar

            Perang Banjar berawal karena Belanda campur tangan dalam pergantian Raja di kerajaan Banjarmasin. Belanda mendukung Pangeran Tamjid Ullah yang tidak disukai rakyat. Pemberontakan dilakukan oleh Prabu Anom dan Pangeran Hidayat. Tahun 1859, Pangeran Antasari memimpin perlawanan menggantikan Prabu Anom yang tertangkap Belanda. Tahun 1862 Pangeran Hidayat menyerah dan perlawanan benar-benar dapat dipadamkan tahun 1866.

Perang Jagaraga di Bali

Perang berawal ketika sengketa tentang hak Tawan Karang. Belanda melakukan serangan terhadap kerajaan Bulelengtahun 1846 Belanda berhasil menguasai kerajaan Buleleng, dan Raja Buleleng menyingkir ke Jagaraga dibantu oleh kerajaan Karangasem. Kemudian Belanda merebut bentang Jagaraga dan melanjutkan expedisi militer tahun 1849. Kerajaan Gianyar dan Klungkung menjadi sasaran belanda. Tahun 1906 seluruh kerajaan di Bali jatuh di tangan Belanda setelah rakyat melakukan perang habis-habisan sampai mati yang dikenal dengan nama Perang Puputan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.