PETUALANGANKU

“Reni” begitulah orang memanggilku. Saya adalah seorang Guru Garis Depan yang mengajar di Kabupaten Lombok Utara. Saya bisa sampai pada titik ini karena mengikuti serangkaian program dari Pemerintah.

Perjalanan ini dimulai ketika saya lulus kuliah tahun 2013. Saya melihat informasi bahwa Pemerintah membuka pendaftaran progam SM3T (Sarjana Mendidik di daerah terdepan, terluar dan tertinggal). Saya tertarik dengan progam itu, karena selain untuk menambah pengalaman mengajar siswa-siswi didaerah 3T, saja juga bisa berpetualang mempelajari budaya daerah lain. Waktu itu saya di tempatkan di ujung Pulau Sulawesi, tepatnya di Kabupaten SITARO (Siau Tagulandang Biaro) Provinsi Sulawesi Utara. Banyak pengalaman baru yang saya dapatkan disana. Sebuah aktivitas yang tidak bisa terlupakan adalah pada saat saya mengikuti peserta didik saya melakukan “menjeu”. Bagi orang diluar Pulau Sulawesi Utara pasti asing dengan kata itu. “Menjeu” ini adalah aktivitas mencari buah Pala. Sebagian besar penduduk di Kabupaten ini mempunyai kebun Pala yang hasilnya lumayan besar bisa sampai di ekspor ke luar negeri. Siswa-siswi saya setiap pulang sekolah dan juga sore harinya selalu mencari buah pala yang sudah jatuh dari pohon. Disini, ketika buah pala sudah jatuh ke tanah maka kesepakatannya adalah buah tersebut menjadi milik umum. Buah pala tersebut ketika dijual bisa laku Rp 1000 setiap 3 biji. Sehingga siswa-siswi saya sangat semangat mencari buah ini untuk menambah uang jajan mereka.

Selesainya progam SM3T, di tahun berikutnya yaitu tahun 2015 saya mendapat beasiswa Profesi Guru di Universitas Negeri Malang. Saya menjalaninya selama 1 tahun. Banyak pengetahuan baru juga yang saya dapatkan selama mengikuti PPG.

Di Tahun 2016 saya mengikuti tes Guru Garis Depan. Ada sekitar 6000an peserta yang mengikutinya. Kabupaten Lombok Utara itulah pilihan saya pada waktu itu, dan alhamdulillah saya diterima sesuai pilihan yang saya inginkan.

Tahun 2017 saya mulai ditempatkan di Kabupaten ini tepatnya di SMPN Satap 2 Tanjung. Sudah sekitar 8 bulan disini banyak hal baru yang saya dapatkan. Mulai dari kebiasaan belajar siswa yang sedikit berbeda dengan di Jawa, sampai pada kebiasaan budaya penduduknya. Untuk mengajar siswa-siswi disini harus butuh tenaga ekstra, karena mereka termasuk siswa siswi yang aktif bergerak kemana-kemana pada saat jam pelajaran. Namun ketika sudah berjalan beberapa waktu akhirnya saya bisa memahami karakteristik mereka satu persatu, sehingga kelas bisa dikondisikan. Jumlah siswa-siswi saya di sekolah ini tidak terlalu banyak, hanya sekitar 72 orang siswa. Sehingga lumayan mudah bagi saya untuk segera belajar memahami karakteristik mereka.

Kondisi penduduk didaerah ini juga menyenangkan. Warganya yang ramah membuat saya betah serasa seperti di Jawa. Lingkungannya pun juga aman, jauh dari tindakan-tindakan kriminal. Dikarenakan disini termasuk Kabupaten baru, sehingga masih banyak pembangunan-pembangunan disini. Saya juga mulai memahami budaya disini seperti Perisaian dan juga Gendang beleq.

Saya juga menyukai makanan-makanannya seperti “pelecing” dan juga sate ikan. Pada awalnya lidah saya kurang begitu suka dengan selera orang-orang disini, karena orang disini menyukai makanan pedas. Sehingga makanan disini kebanyakan terasa sangat pedas bagi saya. Namun seiring berjalannya waktu, lidah saya mulai menyesuaikan dengan selera orang-orang disini.

Di Lombok Utara juga terdapat banyak tempat-tempat wisata yang bagus untuk dikunjungi seperti Gili Trawangan, Gili Air, Gili Meno, Air terjun senaru, dan juga Selelos yang terkenal dengan duriannya. Oleh karena itu silahkan mampir menikmati Pesona Lombok Utara.

 

 

To Be Continue

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.